Meskipun pemerintah menawarkan kompensasi, termasuk tanah kavling, rumah pengganti, dan bantuan relokasi sementara, ribuan warga Rempang masih menolak meninggalkan tempat tinggal mereka karena mereka ingin mempertahankan tanah yang sudah mereka tinggali selama bertahun-tahun.
Namun, konflik tak terhindarkan, dan sejumlah bentrokan terjadi pada 7 dan 11 September 2023. Polisi telah menggunakan gas air mata, dan beberapa anak-anak harus dilarikan ke rumah sakit. Saat ini, 43 orang yang menolak relokasi telah ditangkap dengan tuduhan provokator.