Di kawasan ini, diskusi soal kepatuhan kini berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas mengenai penerapan ketertelusuran digital. Banyak pelaku usaha masih melihat ketertelusuran sebagai beban biaya tambahan, sementara risiko terbesar justru terletak pada hilangnya akses ke pasar premium yang mensyaratkan legalitas dan bukti bebas deforestasi. Meski urgensinya semakin jelas, tingkat adopsinya tetap rendah. Hambatannya beragam—dari literasi digital yang masih minim, keterbatasan akses perangkat dan konektivitas yang tidak stabil, hingga sistem internal yang terfragmentasi serta kekhawatiran terhadap keamanan dan pemanfaatan data.
Dalam webinar Beyond Ketertelusuran Talks yang diselenggarakan KOLTIVA, perusahaan AgriTech asal Swiss-Indonesia, Regional Program Manager Agricultural Business Initiative (aBi), Susan Atyang, menegaskan bahwa ketertelusuran kini menjadi fondasi untuk memperkuat daya saing, memperluas akses pasar, sekaligus meningkatkan inklusi finansial.













