“Yang tetap jadi masalah nang kudu kita pecahkan itu adalah daya tampung ‘rest area’ yang harus dicari jalan keluarnya kelak lantaran kelambatan di jalanan itu lantaran rata-rata di depan ‘rest area’, ada yang mau masuk, ada yang mau keluar,” ungkap Muhadjir.
Menurut Muhadjir, pengelola rest area punya pertimbangan ekonomis sehingga tetap melakukan pengembangan upaya meski terjadi kepadatan.
“Mereka jika hanya melayani aktivitas lebaran sama tahun baru mungkin dianggap terlalu profitable dan tidak efisien secara bisnis, jadi harus ada pengganti yang kita diskusikan. Sementara jika ada yang mau nambah rest area tidak bisa lantaran sudah ada kontraknya kan kita bakal coba cari jalan keluar sehingga tahun depan mudah-mudahan lebih nyaman,” jelas Muhadjir.