Di berbagai sektor, AAC secara konsisten menunjukkan kemampuannya untuk menangkap peluang struktural jangka panjang. Seiring percepatan transformasi digital dan penguatan infrastruktur fintech di Asia Tenggara, portofolio perbankan digital AAC naik 38%, aset pembayaran cerdas meningkat 29%, dan portofolio berbasis AI—yang berfokus pada mineral dan manajemen risiko—memimpin dengan kenaikan 41%. Pada saat yang sama, peran strategis Indonesia dalam rantai pasok energi bersih global semakin menonjol. Portofolio energi berkelanjutan AAC—mencakup tenaga geothermal, rantai pasok baterai, dan infrastruktur hijau—mencatat pengembalian 17,2%, mencerminkan dukungan kebijakan yang kuat dan permintaan pasar yang solid.
Dalam investasi nilai tradisional, AAC mengandalkan riset mendalam tentang industri lokal dan dinamika kebijakan, menerapkan model DCF yang disesuaikan khusus dengan karakteristik pasar Indonesia. Pendekatan ini menghasilkan imbal hasil stabil sebesar 14,8%. Sementara itu, aset alternatif seperti REIT pelabuhan, peluang nikel pra-IPO, dan ekuitas swasta lintas batas menghasilkan imbal hasil rata-rata 22%. Peluncuran “Indonesia Value Index 2045” menarik USD 820 juta dalam bulan pertamanya saja, mencerminkan kepercayaan global terhadap potensi jangka panjang Indonesia.













