“Sebetulnya menurut saya, kita sudah tidak perlu lagi menjual pola-pola kapitalisasi agama menjadi suara seperti tayangan adzan ini. Politisi seperti ini ketinggalan zaman,” tambahnya.
Di samping itu, menurutnya, meskipun menggunakan frekuensi publik, stasiun TV swasta mudah untuk diintervensi oleh aktor politik yang terkait dengan media bersangkutan sehingga masyarakat membutuhkan stasiun TV yang bisa memberikan edukasi politik secara netral.
“Kita ingin 2024 mendapatkan pemimpin yang lebih baik lagi ke depannya. Untuk itu, dibutuhkan stasiun TV yang bisa memberikan edukasi politik, sehingga tawaran gagasan yang disiapkan masing-masing kandidat bisa diterima dan dicerna oleh masyarakat sebagai panduan mereka dalam memilih,” ujarnya.
Tayangan adzan milik MNC Group yang diisi oleh bakal calon presiden Ganjar Pranowo ini sudah ditayangkan sejak 2 September lalu. Dalam tayangan tersebut, terlihat Ganjar memakai baju koko putih dan peci hitam sambil menyambut jamaah yang dilanjut dengan adegan dirinya sedang berwudhu.