OPINI – Istilah stagnasi sekuler kembali dipopulerkan oleh ekonom Harvard, Larry Summers. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Alvin Hansen pasca Depresi Ekonomi tahun 30an. Stagnasi sekuler adalah keadaan ekonomi dimana pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu yang panjang mengalami stagnasi.
Faktor penyebabnya antara lain dapat dilihat pada pertumbuhan permintaan aggregat yang stagnan ( kurvanya landai dari tahun ke tahun), seperti Investasi atau pembentukan modal tetap bruto yang rendah, pertumbuhan konsumsi domestik yang cenderung datar dikarenakan rendahnya pertumbuhan daya beli masyarakat. Dan juga oleh problem struktural ekonomi yang tidak terpecahkan, dan seringkali pula, respon kebijakan fiskal dan moneter yang tidak tepat.
perekonomian yang mengalami stagnasi sekuler biasanya akan menghadapi tingginya angka pengangguran dan penurunan daya beli.
Di tahun 2024, LPEM UI sebetulnya sudah menenggarai munculnya fenomena stagnasi sekuler dalam perekonomian nasional. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang satu dekade terakhir hanya berkisar 5%, dan terus menunjukkan kecenderungan pelambatan.
Selain itu, dalam sepuluh tahun terakhir, pertumbuhan manufaktur di Indonesia juga mengalami stagnasi, rata-rata tumbuh 3,55%. Memang benar, Indonesia telah tumbuh menjadi salah satu sentra rantai pasok manufaktur global. Tetapi yang juga tidak bisa dipungkiri adalah pertumbuhan manufaktur Indonesia juga mengalami fenomena “trade off” antara sektor industri yang mengalami fenomena “Sunset” dengan sektor manufaktur berbasis makanan, logam dasar dan elektronik.









