JENGGALA.ID – Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) telah mengingatkan bahwa situasi di Jalur Gaza semakin memburuk karena krisis listrik dan air yang berkepanjangan. Menurut OCHA, produksi air dari sumber air tanah kini hanya mencapai kurang dari 5% dari tingkat sebelum krisis terbaru ini. Kekurangan bahan bakar, ketidakamanan, dan kerusakan jalan telah menghentikan pengangkutan air di sebagian besar wilayah. Sekitar 1 juta warga Gaza yang kini menjadi pengungsi hidup dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
Kondisi ini juga berdampak pada kesehatan dan gizi masyarakat Gaza. Pasokan air yang sangat terbatas meningkatkan risiko dehidrasi, dan orang terpaksa mengonsumsi air yang tidak layak minum. Selain itu, stok komoditas makanan di toko-toko Gaza diperkirakan hanya akan bertahan beberapa hari lagi.
Program Pangan Dunia (World Food Programme) telah memberikan makanan dan bantuan uang tunai kepada 522 ribu warga Palestina sejak awal krisis ini.
Para ahli PBB telah menyerukan gencatan senjata melalui pernyataan dari Prosedur Dewan Hak Asasi Manusia. Mereka mengingatkan bahwa penghancuran rumah dan infrastruktur sipil yang disengaja dan sistematis, yang dikenal sebagai “domisili,” serta pemutusan pasokan air minum, obat-obatan, dan makanan penting, melanggar hukum pidana internasional. Mereka juga menyoroti risiko genosida terhadap rakyat Palestina.













