JENGGALA.ID – Fenomena ekuinoks akan kembali menyapa sejumlah wilayah Indonesia. Tapi apa sebenarnya ekuinoks itu? Menurut penjelasan Organisasi Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ekuinoks adalah saat Matahari melintasi garis khatulistiwa atau ekuator. Karena Indonesia berada di dekat garis khatulistiwa, kita akan merasakan dampak langsung dari fenomena ini.
BRIN menyebutkan bahwa di Indonesia, titik nol khatulistiwa terletak di Pontianak, Kalimantan Barat, dan Matahari melewati titik ini dua kali dalam setahun, yaitu pada 20-21 Maret dan 23 September.
Menurut BRIN, ekuinoks hari ini akan dimulai pada pukul 08.03 WIB/09.03 WITA/10.03 WIT. Saat ekuinoks terjadi, jarak antara Matahari dan Bumi mencapai 150.147.520 km.
“Ekuinoks adalah bagian dari keunikan Indonesia karena kita dilintasi oleh garis khatulistiwa,” kata BRIN.
Selain itu, ada juga fenomena kulminasi yang terkait dengan ekuinoks. Kulminasi terjadi ketika Matahari berada pada posisi paling tinggi di langit. Ketika deklinasi Matahari sama dengan lintang pengamat, fenomena ini disebut Kulminasi Utama.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kulminasi utama terjadi ketika Matahari tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit. Hal ini membuat bayangan benda-benda tegak menjadi ‘menghilang’ karena mereka sejajar dengan benda itu sendiri.
“Oleh karena itu, hari kulminasi utama juga disebut sebagai hari tanpa bayangan,” kata BMKG.
Kulminasi utama terjadi selama 44 hari dalam dua gelombang per tahun. Gelombang pertama berlangsung dari 20 Februari hingga 5 April, sementara gelombang kedua terjadi dari 8 September hingga 22 Oktober.
Guswanto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, menjelaskan bahwa ekuinoks adalah fenomena astronomi yang terkait dengan posisi semu Matahari yang melintasi garis khatulistiwa atau ekuator. Akibatnya, durasi siang dan malam hampir sama, yaitu sekitar 12 jam di wilayah yang dilaluinya.
Namun, Guswanto menegaskan bahwa ekuinoks tidak selalu menyebabkan peningkatan suhu udara secara drastis atau ekstrem. Ada faktor-faktor lain, seperti kecepatan angin, tutupan awan, dan tingkat kelembapan udara, yang memiliki dampak lebih besar terhadap suhu di suatu wilayah.
“Fenomena ekuinoks biasanya tidak mengakibatkan perubahan suhu maksimum yang signifikan di Indonesia, biasanya berkisar antara 32-36 derajat Celsius,” tambahnya.
Puncak ekuinoks hari ini akan terjadi pada tengah hari, ketika bayangan benar-benar hilang. Itulah mengapa fenomena ini juga dikenal sebagai hari tanpa bayangan.
Berikut jadwal puncak ekuinoks hari ini dan daftar kota yang dilalui garis khatulistiwa yang mengalaminya:
Tumbang Olong, Kalimantan Tengah: 11.15.14 WIB
Pontianak, Kalimantan Barat: 11.35.16 WIB
Tanjung Teludas, Lingga, Kepulauan Riau: 11.54.34 WIB
Lipat Kain, Kampar, Riau: 12.04.07 WIB
Pangkalan Lesung, Riau: 12.07.44 WIB
Bonjol/Pasaman, Sumbar: 12.11.40 WIB
Kinali/Pasaman Barat, Sumbar: 12.13.12 WIB
Bontang, Kalimantan Timur: 12.02.43 WITA
Santan Ulu, Kutai, Kalimantan Timur: 12.03.07 WITA
Long Iram, Kutai Barat: 12.10.01 WITA
Tinombo Selatan, Sulawesi Tengah: 11.52.08 WITA
Seipele, Raja Ampat, Papua Barat Daya: 12.12.05 WIT
Semoga informasi ini membantu Anda memahami fenomena ekuinoks yang terjadi hari ini.






